Senin, 01 September 2025

REVIEW JURNAL PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR TERPADU

Nama            : Beta Aqillah Sari
NPM            : E1I023003
Kelas            : A
Mata Kuliah : Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu 
Dosen            : Dr. Yar Johan, S. Pi., M. Si.

SUSTAINABILITY OF URBAN COASTAL AREA MANAGEMENT: A CASE STUDY ON CIDE

DOI : http://dx.doi.org/10.1080/10549811.2016.1228072

Judul

Sustainability of urban coastal area management: A case study on Cide

Tahun

2016

Penulis

Mehmet Cetin

Publikasi

Journal of Sustainable Forestry

Pendahuluan

Pantai-pantai di Turki memainkan peran penting dalam industri pariwisata, di mana pasar sebagai tempat tinggal kedua juga mengalami pertumbuhan. Hal ini mengakibatkan kerusakan lingkungan yang lebih dalam, yang berpotensi membuat beberapa spesies menjadi terancam punah. Menurut Pratiwi (2015) padatnya jumlah penduduk dapat berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia seperti buang sampah sembarangan, sanitasi dan drainase yang buruk. Menurut Pinto (2015) dampak lain akibat padatnya jumlah penduduk yaitu alih fungsi lahan sebagai lahan permukiman, industri, sarana dan prasarana serta kegiatan lainnya. 

Oleh karena itu, pengelolaan pesisir yang berkelanjutan dan perlindungan lingkungan di daerah pesisir, terutama di distrik Cide, sangatlah penting. Diperlukan pendekatan yang terintegrasi dan efektif dalam pengelolaan lahan dan sumber daya alam untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan serta melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem pesisir. Menurut Karim dan Hoque (2009) pendekatan ICM adalah pendekatan yang sistematis, dinamis, dan adaptif yang mampu mengatasi tantangan kompleks di wilayah pesisir. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menangani masalah kerusakan lingkungan, ancaman bencana alam, serta dampak dari industrialisasi dan urbanisasi yang berpotensi menghilangkan identitas kota dan merusak ekosistem pesisir. 

Pada bagian pendahuluan terdapat kekurangannya yaitu kurangnya penjelasan yang mendalam mengenai masalah spesifik yang dihadapi wilayah pesisir Cide serta kurangnya penjabaran tentang gap atau capaian penelitian yang ingin diisi. Selain itu, bagian ini tidak secara jelas menyampaikan tujuan penelitian secara spesifik.

Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup pengumpulan data mengenai kondisi lingkungan dan sosial, analisis penggunaan lahan, dan penilaian risiko bencana alam di daerah pantai Cide. Menurut Lasaiba dan Alnursa (2023) dengan menggabungkan data lingkungan, sosial, penggunaan lahan, dan risiko bencana, peneliti dapat memahami interaksi kompleks antara alam dan manusia. Data mengenai lingkungan diperoleh melalui peta topografi yang dibuat dengan bantuan perangkat lunak ArcInfo menggunakan model medan digital (TIN) dan interval kontur 50 meter. Menurut Van (1996) penggunaan TIN sangat efektif untuk menghasilkan data elevasi yang akurat, yang merupakan komponen krusial dalam berbagai analisis lingkungan. Di samping itu, penelitian ini juga melibatkan survei terhadap warga yang berusia di atas 18 tahun dari berbagai latar belakang sosial ekonomi untuk mendapatkan masukan terkait pengembangan sektor pariwisata dan pengelolaan wilayah.

Pemanfaatan sistem informasi geografis (SIG) menjadi metode utama dalam mengidentifikasi klasifikasi penggunaan lahan dan memahami perbedaan wilayah untuk perencanaan dan pengelolaan kawasan pesisir. Menurut Muhsoni (2009)  SIG dapat digunakan secara efektif untuk perencanaan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir. Dengan menggunakan metode  SIG dapat memahami perbedaan spasial dan mengklasifikasikan penggunaan lahan untuk mendukung perencanaan yang berkelanjutan. Namun, studi ini tidak memiliki kerangka pengelolaan terpadu untuk kawasan pesisir dan menekankan pentingnya pemanfaatan data lingkungan secara menyeluruh dalam proses pengambilan keputusan, serta penilaian ekonomi yang berkelanjutan.

Hasil dan Pembahasan

Wilayah pesisir Cide mengalami perubahan signifikan dalam hal penggunaan lahan, dengan lahan pertanian, hutan, dan kawasan bukit pasir sebagian besar dialihkan untuk kebutuhan wisata dan pemukiman. Transformasi ini terjadi karena tingginya permintaan terhadap sektor pariwisata dan proses urbanisasi, yang memberi dampak pada ekosistem alami dan struktur sosial ekonomi di daerah tersebut. Menurut Sahavacharin dkk., (2022) urbanisasi pesisir yang tidak terkendali secara langsung menyebabkan alih fungsi lahan dari lahan hijau, lahan basah, atau lahan pertanian menjadi permukiman dan infrastruktur yang mengakibatkan rusak habitat alami dan mengurangi keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, penting untuk mengelola wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi secara seimbang.

Pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografis (GIS) telah terbukti efektif untuk memetakan perubahan dalam penggunaan lahan serta mengidentifikasi wilayah yang memerlukan perlindungan dan pengelolaan khusus. Menurut Mulder dkk., (2023) bahwa GIS adalah alat yang sangat berguna dalam perencanaan dan pengelolaan lahan.  Di samping itu, keterlibatan masyarakat lokal dan pihak terkait lainnya sangat krusial untuk memastikan proses pengelolaan yang inklusif dan responsif terhadap perubahan yang terjadi. Menurut Fakhruddin (2024) keterlibatan masyarakat bukan hanya soal partisipasi, tetapi juga tentang berbagi pengetahuan dan tanggung jawab serta pengetahuan ekologi tradisional yang dimiliki masyarakat lokal (local ecological knowledge) sangat berharga untuk melengkapi data ilmiah. Pengelolaan yang tidak terencana dan minimnya pengawasan terhadap lingkungan dapat mempercepat kerusakan ekosistem serta menurunkan potensi pengembangan ekonomi berkelanjutan berbasis pariwisata.

Dengan demikian, perlu adanya strategi yang menggabungkan pelestarian sumber daya alam, perlindungan budaya, dan pengembangan infrastruktur serta kebijakan yang mendukung keberlangsungan kawasan pesisir. Menurut Rakhmawati (2017) dengan Integrated Coastal Management (ICM) dengan perencanaan yang solid dapat menghasilkan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan cara ini, pengelolaan yang baik akan mampu mempertahankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan, serta memastikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan ekosistem di kawasan Cide.

Kesimpulan

Dengan adanya penelitian ini mengungkapkan bahwa perubahan penggunaan lahan di area pesisir Cide sedang terjadi dengan signifikan dan terus berkembang, yang menyebabkan penurunan terhadap struktur ekologi dan lingkungan. Pemanfaatan teknologi GIS dan keterlibatan masyarakat dinilai krusial dalam perencanaan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan, dengan penekanan pada penggabungan elemen ekologis, sosial, dan ekonomi. Pengelolaan yang efektif harus melibatkan kerjasama antar lembaga dan pengawasan rutin untuk memastikan keberlangsungan sumber daya alam serta mengurangi potensi konflik terkait penggunaan lahan di masa depan.

Referensi

Cetin, M. (2016). Sustainability of urban coastal area management: A case study on Cide. Journal of Sustainable forestry35(7), 527-541.

DOI : http://dx.doi.org/10.1080/10549811.2016.1228072

DAFTAR PUSTAKA

Fakhruddin, Y. A. A. (2024). Sumber Daya Kearifan Lokal untuk Konservasi Lingkungan Hidup. Jurnal Ekologi, Masyarakat dan Sains5(1), 100-108.

Karim, M. S., dan Hoque, R. (2009). Integrated coastal zone management and sustainable development of coastal area: A short overview of international legal framework. Integrated coastal zone management, 170-177.

Lasaiba, M. A., dan Alnursa, D. S. (2023). Human Geography in the Context of Spatial Perspective. GEOFORUM, 81-99.

Muhsoni, F. F. (2009). Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir Untuk Pariwisata Dengan Memanfaatan Citra Satelit Dan Sistem Informasi Geografis Di Sebagian Bali Selatan. Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology2(2), 135-140.

Mulder, Y. M., Nugraha, A. L., dan Sabri, L. M. (2023). Analisis Perubahan Penggunaan Lahan dan Arahan Penggunaan Lahan Berbasis Sistem Informasi Geografis (Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang). Jurnal Geodesi Undip11(4), 111-122.

Pinto, Z. (2015). Kajian Perilaku Masyarakat Pesisir yang Mengakibatkan Kerusakan Lingkungan (Studi Kasus di Pantai Kuwaru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY). Jurnal Wilayah dan lingkungan3(3), 163-174.

Pratiwi, D.A. (2015). Pemberdayaan Masyarakat RW 12 dalam Kegiatan Penghijauan Lingkungan di Kavling Mandiri Kelurahan Sei Pelunggut. Minda Baharu 1(1) : 25-32.

Rakhmawati, R. (2017). Peranan Partnerships In The Environmental Management For Seas Of East Asia (Pemsea) Melalui Program Integrated Coastal Management (Icm) Dalam Pengendalian Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang Di Indonesia: Studi Kasus: Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi-Jawa Barat. Global Political Studies Journal1(2), 124-139.

Sahavacharin, A., Sompongchaiyakul, P., dan Thaitakoo, D. (2022). The effects of land-based change on coastal ecosystems. Landscape and Ecological Engineering18(3), 351-366.

Van Kreveld, M. (1996). Digital elevation models and TIN algorithms. In Advanced School on the Algorithmic Foundations of Geographic Information Systems (pp. 37-78).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEKANISME MAKAN BIOTA LAUT

  Nama                            : Beta Aqillah Sari NPM                            : E1I023003 Kelas                            : A ...