SUSTAINABILITY OF URBAN COASTAL AREA MANAGEMENT: A CASE STUDY ON CIDE
|
Judul |
Sustainability
of urban coastal area management: A case study on Cide |
|
Tahun |
2016 |
|
Penulis |
Mehmet
Cetin |
|
Publikasi |
Journal
of Sustainable Forestry |
|
Pendahuluan |
Pantai-pantai di Turki memainkan peran penting dalam industri pariwisata, di mana pasar sebagai tempat tinggal kedua juga mengalami pertumbuhan. Hal ini mengakibatkan kerusakan lingkungan yang lebih dalam, yang berpotensi membuat beberapa spesies menjadi terancam punah. Menurut Pratiwi (2015) padatnya jumlah penduduk dapat berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia seperti buang sampah sembarangan, sanitasi dan drainase yang buruk. Menurut Pinto (2015) dampak lain akibat padatnya jumlah penduduk yaitu alih fungsi lahan sebagai lahan permukiman, industri, sarana dan prasarana serta kegiatan lainnya. Oleh karena itu, pengelolaan pesisir yang berkelanjutan dan perlindungan lingkungan di daerah pesisir, terutama di distrik Cide, sangatlah penting. Diperlukan pendekatan yang terintegrasi dan efektif dalam pengelolaan lahan dan sumber daya alam untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan serta melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem pesisir. Menurut Karim dan Hoque (2009) pendekatan ICM adalah pendekatan yang sistematis, dinamis, dan adaptif yang mampu mengatasi tantangan kompleks di wilayah pesisir. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menangani masalah kerusakan lingkungan, ancaman bencana alam, serta dampak dari industrialisasi dan urbanisasi yang berpotensi menghilangkan identitas kota dan merusak ekosistem pesisir. Pada bagian pendahuluan terdapat kekurangannya yaitu kurangnya penjelasan yang mendalam mengenai masalah spesifik yang dihadapi wilayah pesisir Cide serta kurangnya penjabaran tentang gap atau capaian penelitian yang ingin diisi. Selain itu, bagian ini tidak secara jelas menyampaikan tujuan penelitian secara spesifik. |
|
Metode |
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini mencakup pengumpulan data mengenai kondisi lingkungan dan sosial,
analisis penggunaan lahan, dan penilaian risiko bencana alam di daerah pantai
Cide. Menurut Lasaiba dan Alnursa (2023) dengan menggabungkan data
lingkungan, sosial, penggunaan lahan, dan risiko bencana, peneliti dapat memahami
interaksi kompleks antara alam dan manusia. Data mengenai lingkungan
diperoleh melalui peta topografi yang dibuat dengan bantuan perangkat lunak
ArcInfo menggunakan model medan digital (TIN) dan interval kontur 50 meter.
Menurut Van (1996) penggunaan TIN sangat efektif untuk menghasilkan data
elevasi yang akurat, yang merupakan komponen krusial dalam berbagai analisis
lingkungan. Di samping itu, penelitian ini juga melibatkan survei terhadap
warga yang berusia di atas 18 tahun dari berbagai latar belakang sosial
ekonomi untuk mendapatkan masukan terkait pengembangan sektor pariwisata dan
pengelolaan wilayah. Pemanfaatan sistem informasi geografis
(SIG) menjadi metode utama dalam mengidentifikasi klasifikasi penggunaan
lahan dan memahami perbedaan wilayah untuk perencanaan dan pengelolaan
kawasan pesisir. Menurut Muhsoni (2009) SIG dapat digunakan secara
efektif untuk perencanaan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir. Dengan
menggunakan metode SIG dapat memahami perbedaan spasial dan
mengklasifikasikan penggunaan lahan untuk mendukung perencanaan yang
berkelanjutan. Namun, studi ini tidak memiliki kerangka pengelolaan terpadu
untuk kawasan pesisir dan menekankan pentingnya pemanfaatan data lingkungan
secara menyeluruh dalam proses pengambilan keputusan, serta penilaian ekonomi
yang berkelanjutan. |
|
Hasil
dan Pembahasan |
Wilayah pesisir Cide mengalami perubahan
signifikan dalam hal penggunaan lahan, dengan lahan pertanian, hutan, dan
kawasan bukit pasir sebagian besar dialihkan untuk kebutuhan wisata dan
pemukiman. Transformasi ini terjadi karena tingginya permintaan terhadap
sektor pariwisata dan proses urbanisasi, yang memberi dampak pada ekosistem
alami dan struktur sosial ekonomi di daerah tersebut. Menurut Sahavacharin
dkk., (2022) urbanisasi pesisir yang tidak terkendali secara langsung
menyebabkan alih fungsi lahan dari lahan hijau, lahan basah, atau lahan
pertanian menjadi permukiman dan infrastruktur yang mengakibatkan rusak
habitat alami dan mengurangi keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, penting
untuk mengelola wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan, dengan
mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi secara seimbang. Pemanfaatan teknologi Sistem Informasi
Geografis (GIS) telah terbukti efektif untuk memetakan perubahan dalam
penggunaan lahan serta mengidentifikasi wilayah yang memerlukan perlindungan
dan pengelolaan khusus. Menurut Mulder dkk., (2023) bahwa GIS adalah alat
yang sangat berguna dalam perencanaan dan pengelolaan lahan. Di samping itu, keterlibatan masyarakat
lokal dan pihak terkait lainnya sangat krusial untuk memastikan proses
pengelolaan yang inklusif dan responsif terhadap perubahan yang terjadi. Menurut
Fakhruddin (2024) keterlibatan masyarakat bukan hanya soal partisipasi,
tetapi juga tentang berbagi pengetahuan dan tanggung jawab serta pengetahuan
ekologi tradisional yang dimiliki masyarakat lokal (local ecological
knowledge) sangat berharga untuk melengkapi data ilmiah. Pengelolaan
yang tidak terencana dan minimnya pengawasan terhadap lingkungan dapat
mempercepat kerusakan ekosistem serta menurunkan potensi pengembangan ekonomi
berkelanjutan berbasis pariwisata. Dengan demikian, perlu adanya strategi
yang menggabungkan pelestarian sumber daya alam, perlindungan budaya, dan
pengembangan infrastruktur serta kebijakan yang mendukung keberlangsungan
kawasan pesisir. Menurut Rakhmawati (2017) dengan Integrated Coastal
Management (ICM) dengan perencanaan yang solid dapat menghasilkan
pengelolaan sumber daya yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan cara
ini, pengelolaan yang baik akan mampu mempertahankan keseimbangan antara
pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan, serta memastikan manfaat
jangka panjang bagi masyarakat dan ekosistem di kawasan Cide. |
|
Kesimpulan |
Dengan adanya penelitian
ini mengungkapkan bahwa perubahan penggunaan lahan di area pesisir Cide
sedang terjadi dengan signifikan dan terus berkembang, yang menyebabkan
penurunan terhadap struktur ekologi dan lingkungan. Pemanfaatan teknologi GIS
dan keterlibatan masyarakat dinilai krusial dalam perencanaan pengelolaan
pesisir yang berkelanjutan, dengan penekanan pada penggabungan elemen
ekologis, sosial, dan ekonomi. Pengelolaan yang efektif harus melibatkan
kerjasama antar lembaga dan pengawasan rutin untuk memastikan keberlangsungan
sumber daya alam serta mengurangi potensi konflik terkait penggunaan lahan di
masa depan. |
|
Referensi |
Cetin,
M. (2016). Sustainability of urban coastal area management: A case study on
Cide. Journal of Sustainable forestry, 35(7),
527-541. DOI
: http://dx.doi.org/10.1080/10549811.2016.1228072 |
DAFTAR
PUSTAKA
Fakhruddin,
Y. A. A. (2024). Sumber Daya Kearifan Lokal untuk Konservasi Lingkungan
Hidup. Jurnal Ekologi, Masyarakat dan Sains, 5(1),
100-108.
Karim,
M. S., dan Hoque, R. (2009). Integrated coastal zone management and
sustainable development of coastal area: A short overview of international
legal framework. Integrated coastal zone management, 170-177.
Lasaiba,
M. A., dan Alnursa, D. S. (2023). Human Geography in the Context of Spatial
Perspective. GEOFORUM, 81-99.
Muhsoni,
F. F. (2009). Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir Untuk Pariwisata Dengan
Memanfaatan Citra Satelit Dan Sistem Informasi Geografis Di Sebagian Bali
Selatan. Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and
Technology, 2(2), 135-140.
Mulder,
Y. M., Nugraha, A. L., dan Sabri, L. M. (2023). Analisis Perubahan Penggunaan
Lahan dan Arahan Penggunaan Lahan Berbasis Sistem Informasi Geografis
(Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang). Jurnal Geodesi Undip, 11(4),
111-122.
Pinto,
Z. (2015). Kajian Perilaku Masyarakat Pesisir yang Mengakibatkan Kerusakan
Lingkungan (Studi Kasus di Pantai Kuwaru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan,
Kabupaten Bantul, Provinsi DIY). Jurnal Wilayah dan lingkungan, 3(3),
163-174.
Pratiwi,
D.A. (2015). Pemberdayaan Masyarakat RW 12 dalam Kegiatan Penghijauan Lingkungan di
Kavling Mandiri Kelurahan Sei Pelunggut. Minda Baharu 1(1) : 25-32.
Rakhmawati,
R. (2017). Peranan Partnerships In The Environmental Management For Seas Of
East Asia (Pemsea) Melalui Program Integrated Coastal Management (Icm) Dalam
Pengendalian Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang Di Indonesia: Studi Kasus:
Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi-Jawa Barat. Global Political Studies
Journal, 1(2), 124-139.
Sahavacharin,
A., Sompongchaiyakul, P., dan Thaitakoo, D. (2022). The effects of land-based
change on coastal ecosystems. Landscape and Ecological Engineering, 18(3),
351-366.
Van
Kreveld, M. (1996). Digital elevation models and TIN algorithms. In Advanced
School on the Algorithmic Foundations of Geographic Information Systems (pp.
37-78).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar