I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Ekosistem adalah suatu
system ekologi yang terbentuk oleh timbal balik tak terpisahkan antara mahkluk
hidup dengan linkunganya. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit
biosistem yang melibatkan reaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan
fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan
terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme (Mulyan, 2018). Laut adalah
sebuah perairan asin
besar yang dikelilingi secara
menyeluruh atau sebagian
oleh daratan dalam arti yang lebih luas, "laut" adalah sistem
perairan samudra berair asin yang saling terhubung di bumi yang dianggap
sebagai satu samudra global atau sebagai beberapa samudra utama, selain itu
laut adalah tempat tinggal bagi
beranekaragam kehidupan yang memanfaatkannya sebagai
habitat (Anwar,2021). Ekosistem pesisir dibagi dalam beberapa jenis
yaitu ekosistem estuaria, ekosistem
mangrove, ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun dan ekosistem
pulau-pulau kecil. Adapun ekosistem laut dalam yaitu dimana cahaya matahari pun
tidak dapat masuk ke dalamnya. Organisme-organisme yang hidup di dalam
ekosistem laut dalam ini adalah ikan-ikan yang dapat memancarkan cahaya
sendiri, organisme pengurai, dan predator (Asyiawati dan Akliyah, 2014).
Biota Laut adalah semua
makhluk yang hidup di laut, baik hewan, tumbuhan, maupun karang. Secara umum
biota laut terbagi menjadi tiga kelompok utama yaitu plankton, nekton, dan
benthos. Pada pembagian ini tidak ada hubungannya dengan klasifikasi ilmiah,
ukuran, hewan atau tumbuhan. Tetapi pengklasifikasian ini berdasarkan pada
kebiasaan hidup umum seperti berjalan, gaya hidup, dan persebaran menurut
ekologi (Jalaludin dkk., 2020). Plankton adalah bagian dari komunitas
biota perairan yang dikelompokkan menjadi dua yaitu fitoplankton dan
zoopalankton. Zooplankton memiliki peran penting dalam rantai makanan
diperairan. Hampir semua hewan mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup didasar
laut (bentos) menjalani awal hidupnya menjadi zooplankton (Efendi dan Imran,
2016).
1.2 Tujuan
- Untuk mengetahui
pengertian dan biota laut seperti plankton, nekton, dan bentos.
- Untuk mengetahui factor
factor pembatas hidup dari biota laut seperti plankton, nekton, dan bentos.
II.
ISI
2.1 Plankton
2.1.1
Pengertian Plankton
Plankton
adalah organisme yang hidup melayang di perairan dengan kemampuan pergerakan
yang rendah. Organisme ini merupakan salah satu parameter biologi yang
memberikan informasi mengenai kondisi kualitas dan tingkat kesuburan perairan.
Plankton di perairan berperan penting terhadap kehidupan biota lainnya karena
menjadi sumber pakan alami. Apabila plankton tidak tersedia secara cukup maka
akan mengganggu hubungan tingkatan tropik selanjutnya. Fitoplankton berfungsi
sebagai produsen oksigen dan indikator pencemaran perairan. Fitoplankton dapat
melakukan fotosintesa dengan memanfaatkan cahaya matahari sedangkan zooplankton
adalah sebagai konsumen primer. Keberadaan plankton berfungsi sebagai pakan
alami ikan dan udang dan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang menggambarkan
kondisi suatu perairan (Hendrajat dan Sahrijanna, 2019).
2.1.2
Jenis-Jenis Plankton
Plankton
dibedakan atas dua yaitu zooplankton dan fitoplankton. Zooplankton berperan
sebagai konsumen pertama yang menghubungkan fitoplankton sebagai produsen
dengan organisme yang lebih tinggi jenjang trofiknya. Zooplankton juga berperan
sebagai bioindikator perubahan kondisi lingkungan. Fitoplankton adalah
mikroorganisme yang mampu menyediakan makanannya sendiri (bersifat autotrof)
karena memiliki zat hijau seperti halnya tumbuhan pada umumnya yaitu klorofil.
Zooplankton adalah organisme yang bersifat heterotrof yaitu organisme yang
tidak dapat menyediakan makanannya sendiri karena zooplankton merupakan
konsumen tingkat pertama yang langsung memangsa fitoplankton (Rafiq, 2021).
2.1.3
Faktor-Faktor Pembatas Hidup
a. Suhu
Suhu perairan memengaruhi
keberadaan zooplankton secara fisiologis dan ekologis. Secara fisiologis
perbedaan suhu perairan sangat berpengaruh terhadap fekunditas, lama hidup, dan
ukuran dewasa zooplankton. Secara ekologis perubahan suhu menyebabkan perbedaan
komposisi dan kelimpahan zooplankton (Rafiq, 2021).
b. Arus
Arus laut dapat membawa
larva plankton jauh dari habitat induknya menuju ke tempat mereka menetap dan
berkembang. Pada daerah mangrove, arus yang disebabkan pasang surut mempunyai
pengaruh nyata terhadap distribusi plankton. Arus mempunyai arti penting dalam
menentukam pergerakan dan distribusi plankton pada suatu perairan. Arus
merupakan sarana transportasi baku untuk makanan maupun oksigen bagi suatu
organisme air (Rafiq, 2021).
c. Salinitas
Zooplankton memiliki
kepekaan yang tinggi terhadap tingkat salinitas pada perairan di ekosistem
mangrove. Tingkat toleransi pada tiap-tiap zooplankton sangat bervariasi.
Salinitas yang ekstrem dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kematian
pada zooplankton. Kisaran salinitas air laut adalah 30-35‰, estuari 5-35‰ dan
air tawar 0,5- 5‰ (Rafiq, 2021).
d. Derajat
Keasamaan (pH)
PH dapat memengaruhi
plankton dalam proses perubahan dalam reaksi fisiologis dari berbagai jaringan
maupun pada reaksi enzim. PH optimum bagi pertumbuhan plankton adalah 5,6-9,4
(Rafiq, 2021).
e. Kecerahan
Pada kedalaman tersebut
sinar matahari sudah
tidak lagi sampai.
Jarak yang biasa ditembus cahaya dalam
kolom air dan
kedalaman merupakan fungsi
dari kecerahan. Semakin besar
nilai kecerahan akan meningkatkan hasil
produktivitas primer dalam bentuk biomassa yang merupakan
pendukung utama kehidupan pada lingkungan tertentu. Plankton dapat
hidup dengan baik pada
konsentrasi lebih dari 3 mg/l (Siahaya, 2023).
2.2 Nekton
2.2.1
Pengertian Nekton
Nekton adalah hewan
yang dapat bergerak bebas
di air, seperti
ikan, dan udang. Organisme akuatik ini dapat bergerak dengan cara
“berenang” di dalam air. Pergerakan mereka biasanya tidak dikendalikan oleh
gelombang dan arus. Komunitas nekton terdapat hampir di seluruh perairan dan
pada berbagai kedalaman, namun sebagian besar tidak dapat bergerak bebas di
laut atau perairan lainnya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan suhu, salinitas
dan juga ketersediaan makanan. Komunitas nekton terutama terdiri dari hewan
vertebrata antara lain ikan, krustasea (kepiting, kepiting, udang, lobster),
mamalia laut (anjing laut, paus), moluska (cumi-cumi). ). , gurita) dll. Mereka
memakan plankton atau nekton lainnya (Irmawati dkk., 2017)
2.2.2
Jenis-Jenis Nekton
Nekton
merupakan organisme yang dapat berenang dan bergerak aktif, misalnya ikan dan
udang, termasuk amfibi dan serangga air besar . Walaupun udang dan kepiting
hidupnya umumya di dasar perairan, akan tetapi karena memiliki kemampuan
melawan arus dan berenang bebas sehingga dapat dikategorikan sebagai nekton.
Kondisi dan karakteristik habitat perairan termasuk kualitas air sangat
berpengaruhi terhadap pola persebaran, keanekaragaman, kelimpahan ikan, udang
dan kepiting. Contoh nekton dalam
ekosistem laut adalah ikan-ikan laut, reptil laut, mamalia laut, cumi-cumi, dan
sebagainya (Muhtadi dkk., 2017).
2.2.3
Faktor-Faktor Pembatas Hidup
a. Suhu
Kisaran suhu di perairan
adalah 23 - 29,3oC. Nilai suhu di perairan masih menunjukkan nilai yang normal
serta masih sesuai bagi kehidupan biota akuatik (Muhtadi dkk., 2017).
b. Derajat
Keasaman (pH)
Nilai pH di perairan
berkisar antara 6,5 - 7,5. Nilai pH perairan cendrung netral, karena rendahnya
bahan organik sehingga tingkat dekomposisi organik menjadi rendah. Dengan
demikian Oksigen selalu lebih tinggi dan CO2 rendah, sehingga pH cenderung
netral. Secara umum Nilai pH masih memenuhi baku mutu. Rentang pH 6 - 9
merupakan cocok untuk kehidupan ikan dan biota akuatik lainnya. Sebagian besar
biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH (Muhtadi dkk., 2017).
c. Salinitas
Salinitas adalah tingkat
keasinan atau kadar garam terlarut yang terdapat pada air. Umumnya salintitas
pada air sungai dan danau sangat rendah, yaitu 0,05%.Pada air laut kadar
garamnya mencapai 3,5%, sedangkan air payau berkisar antara 3 – 5 % (Hanifah,
2024).
d. Arus
Nekton merupakan
organisme yang dapat berenang dan bergerak aktif. Walaupun udang dan kepiting
hidupnya umumya di dasar perairan, akan tetapi karena memiliki kemampuan
melawan arus dan berenang bebas sehingga dapat dikategorikan sebagai nekton (Muhtadi
dkk., 2017).
2.3 Bentos
2.3.1
Pengertian Bentos
Bentos merupakan
organisme yang hidup menetap di dasar perairan, bersentuhan langsung dengan
sedimen, sehingga berpotensi terpapar secara langsung oleh zat pencemar seperti
bahan organik serta logam berat. Bentos memiliki distribusi yang luas,
menempati posisi penting dalam rantai makanan,serta memiliki respon yang cepat
dibandingkan organisme tingkat tinggi lainnya sehingga dapat digunakan sebagai indikator
pencemaran lingkungan. Keanekaragaman bentos dapat digunakan sebagai penentu
kondisi suatu perairan (Desmawati dkk., 2020).
2.3.2
Jenis-Jenis Bentos
Bentos digolongkan
menjadi dua yakni fitobentos danzoobentos. Fitobentos merupakan organisme bentos
yang mempunyai sifat seperti tumbuhan. Sedangkan zoobentos merupakan organisme bentos
yang mempunyai sifat seperti hewan. Berdasarkan ukurannya bentos dapat dibedakan
menjadi makrobentos, mesobentos atau meiobentos, dan mikrobentos. Makrobentos
adalah organisme yang hidup didasar perairan dan tersaring oleh saringan yang
berukuran mata saring 1,0x1,0 milimeter yang pada pertumbuhan dewasanya
berukuran 3-5milimeter. Mesobentos merupakan organisme yang mempunyai ukuran
antara 0,1-1,0 milimeter,misalnya golongan protozoa yang berukuran besar,cacing
berukuran kecil, Crustacea berukuran yang sangat kecil, misalnya Ostracoda.
Mikrobentos adalah organisme yang mempinyai ukuran kurang dari 0,1 milimeter,
misalnya Protozoa (Budi, 2017).
2.3.3
Faktor-Faktor Pembatas Hidup
a. Suhu
Kisaran suhu optimal
bagikehidupan biota air di perairan tropis adalahantara 28-32 ºC. Beberapa
spesies kerang-kerangan hidup pada kisaran suhu 25-32 ºC (Ulfa dkk., 2018).
b. Derajat
Keasaman (pH)
PH air yang normal adalah
sekitar netral, yaituantara 6-8 sehingga organisme perairan dapat bertahan
hidup. Beberapa jenis Gastropoda terutama ditemukan pada perairan dengan pH
yang lebih besar dari7. Kebanyakan Bivalvia ditemukan pada perairan dengan pH
5,6-8,3. PH sangat mempengaruhi kehidupanmakhluk hidup, termasuk betik (Ulfa dkk., 2018).
c. Salinitas
Kisaran salinitas ini
menunjukkan bahwa suatu kawasan termasuk ke dalam kawasan perairan payau dan
masih mendukung kehidupan bentos. Kadar garam antara 0,5 - < 30 % dikatakan
sebagai perairan payau (Ulfa dkk., 2018).
d. Arus
Kecepatan arus
berdasarkan tipe arusnya dibedakan menjadi 3 yaitu arus sangat cepat > 1
m/dtk, arus cepat 0,5 – 1 m/dtk, arus sedang0,2 – 0,5 m/dtk, arus lambat 0,1 –
0,2 m/dtk dan arus sangatlambat < 0,1 m/dtk (Ulfa dkk., 2018).
III.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Plankton
adalah organisme yang hidup melayang di perairan dengan kemampuan pergerakan
yang rendah. Nekton
adalah hewan yang dapat
bergerak bebas di
air, seperti ikan, dan udang. Bentos merupakan
organisme yang hidup menetap di dasar perairan, bersentuhan langsung dengan
sedimen. Baik plankton, nekton, dan bentos dapat di temukan di air asin atau
air payau, wilayah pesisir, terumbu karang maupun laut dalam. Tergantung dengan
factor-faktor yang mempengaruhi hidup plankton, nekton, dan bentos sendiri.
Biota laut bergantung dengan kondisi suatu lingkungan seperti suhu, pH, salinitas, dan arus yang
dapat mendukung kehidupan biota tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar, I. R.
K. (2021). LAUT SUMBER IDE PENCIPTAAN KURSI SANTAI DAN MEJA. DESKOVI:
Art and Design Journal, 4(1), 1-6.
Asyiawati,
Y., dan Akliyah, L. S. (2014). Identifikasi dampak perubahan fungsi ekosistem
pesisir terhadap lingkungan di wilayah pesisir kecamatan muaragembong. Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota, 14(1).
Budi, R.
(2017). Makrobentos Sebagai Bioindikator Kualitas Air Sungai Way Belau Bandar
Lampung. Jurnal TEGI, 9(2).
Desmawati,
I., Adany, A., dan Java, C. A. (2020). Studi awal makrozoobentos di kawasan
wisata sungai kalimas, Monumen Kapal Selam Surabaya. Jurnal Sains dan
Seni ITS, 8(2), E19-E22.
Efendi, I.,
dan Imran, A. (2016). Struktur Komunitas Zooplankton di Area Permukaan Muara
Sungai Ancar Kota Mataram. JUPE: Jurnal Pendidikan Mandala, 1(1),
90-104.
Hanifah, N.
F. (2024). KEANEKARAGAMAN NEKTON DI PERAIRAN SUNGAI WAY TAHMI,
BLAMBANGAN UMPU (Doctoral dissertation, UIN RADEN INTAN LAMPUNG).
Hendrajat,
E. A., dan Sahrijanna, A. (2019). Kondisi Plankton pada Tambak Udang Windu
(Penaeus monodon Fabricius) dengan Substrat berbeda. JURNAL BERITA
BIOLOGI, 18(1), 47-57.
Irmawati,
E., Ruyani, A., dan Yani, A. P. (2017). STUDI KAWASAN KONSERVASI DI KOLAM TAMAN
PINTAR SEBAGAI BAHAN AJAR LKS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA. Diklabio:
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Biologi, 1(1), 54-64.
Jalaludin,
M., Octaviyani, I. N., Putri, A. N. P., Octaviyani, W., dan Aldiansyah, I.
(2020). Padang lamun sebagai ekosistem penunjang kehidupan biota laut di Pulau
Pramuka, Kepulauan Seribu, Indonesia. Jurnal Geografi Gea, 20(1),
44-53.
Muhtadi,
A., Dhuha, O. R., Desrita, D., Siregar, T., & Muammar, M. (2017). Kondisi
habitat dan keragaman nekton di hulu daerah aliran sungai wampu, kabupaten
Langkat, provinsi Sumatera Utara. Depik, 6(2), 90-99.
Mulyan, A.
(2018). Upaya Pemerintah Dalam Membentuk Kesadaran Nelayan Terhadap Kerusakan
Ekosistem Laut Di Desa Pulau Kaung Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa
Besar. JUPE: Jurnal Pendidikan Mandala, 3(3), 64-70.
Rafiq Moh. 2021. IDENTIFIKASI JENIS
PLANKTON SEBAGAI BIOINDIKATOR DI PESISIR PANTAI DESA FATUFIA DAN PEMANFAATANNYA
SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN. Skripsi. Universitas Tadulako
Siahaya, R.
A. (2023). Identifikasi Jenis-jenis Plankton di Perairian Pantai Gunung Api,
Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah. JUSTE (Journal of Science and
Technology), 3(2), 111-120.
Ulfa, F.,
Sarong, M. A., & Abdullah, A. (2018, February). Dampak pengalihan lahan
mangrove terhadap keanekaragaman benthos di kecamatan jaya baru kota Banda
Aceh. In Prosiding Seminar Nasional Biotik (Vol. 4, No. 1).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar