I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kepiting bakau memiliki nama latin Scylla serrata. Kepiting bakau merupakan kelompok kepiting berenang yang dicirikan oleh pasangan kaki-kaki belakang yang pipih.. Kepiting bakau banyaknya diminat masyarakat untuk mengkomsumsi Kepiting bakau tidak hanya diminati oleh konsumen dalam negeri tetapi juga diminati konsumen luar negeri. Kepiting bakau banyak dikonsumsi masyarakat terutama kepiting yang sedang bertelur karena rasa dagingnya yang enak. Kepiting bakau juga mengandung protein yang sangat tinggi dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi (Ohoiulun dkk., 2020).Kepiting bakau mengandung 65,72% protein dan 0,88 % lemak, sedangkan ovarium (telur) kepiting bakau mengandung 88,5% protein dan 8,16 % lemak (Tiurlan dkk., 2019). Sehingga permintaan komoditas kepiting bakau terus meningkat baik di pasaran dalam maupun luar negeri, sehingga menyebabkan penangkapan di alam berjalan semakin intensif, akibatnya terjadi penurunan pada populasi kepiting bakau di alam (Kumalah dkk., 2017).
Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu jenis kepiting yang hidup di habitat hutan bakau/mangrove. Selain kepiting (Portunus Pelagicus), kepiting bakau merupakan komoditas ekspor. Kepiting bakau merupakan spesies kepiting yang dominan di Indonesia. Kepiting bakau merupakan salah satu jenis kepiting yang hidup di ekosistem mangrove. Kepiting bakau memiliki beberapa nama lokal antaranya yaitu kepiting lumpur ( Australia), ketam batu (Malaysia), dan kepiting bakau (Indonesia) (Sipayung dan Poedjirahajoe , 2021). Menurut Mbihgo, (2019) kepiting bakau merupakan salah satu organisme perairan yang mempunyai nilai ekonomi penting dan kehidupannya sangat dipengaruhi oleh keberadaan hutan bakau, sehingga hewan ini berkaitan serta bergantung pada hutan bakau sebagai habitat aslinya. Hutan bakau menghasilkan banyak detritus dari daun dan cabang atau dahannya. Hutan bakau juga berfungsi sebagai tempat asuh (nursery ground), tempat pemijahan atau perkawinan (spawning ground), dan tempat mencari makan (feeding ground). bagi organisme perairan seperti kepiting bakau.
1.2 Tujuan
dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui klasifikasi, habitat, cara beradaptasi, cara makan, siklus hidup, fungsi dan manfaat, strategi pengelolaan, dan strategi pemasaran dari kepiting bakau (Scylla Serrata).
II.
ISI
2.1 Klasifikasi
Menurut Koniyo, 2020
taksonominya kepiting bakau (Scylla Serrata) dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
Kingdom: Animalia
Filum : Arthropoda
Class : Crustaceae
Sub class: Malacostraca
Ordo : Decapoda
Sub ordo : Brachyuran
Famili : Portunidae
Genus : Scylla
Spesies : Scylla
serrata
2.2 Habitat
Hutan bakau atau mangrove sering tumbuh di daerah
intertidal (daerah pasang surut) yang berlumpur, berlempung atau berpasir.
Hutan bakau mempunyai peranan ekologis yaitu sebgai tempat daerah asuh, tempat
terjadinya pemijahan atau perkawinan, tempat mencari makan, dan sebagai tempat perlindungan
berbagai organisme terutama kepiting, dan udang. Hutan bakau juga menjadi
habitat dari banyak biota laut seperti ikan, crustacea, mollusca. Salah satu
organisme yang menjadikan hutan bakau sebagai habitatnya yaitu kepiting bakau (Sari
dkk., 2023).
2.3 Siklus
Hidup
Kepiting bakau (Scylla Serrata) merupakan hewan
yang melakukan perkembangbiakan secara seksual yaitu melalui proses perkawinan.
Kepiting bakau yang telah siap untuk proses perkawinan akan memasuki hutan
bakau. Proses perkawinan kepiting bakau dilakukan pada siang hari dimulai
dengan spermatofor kepitin Jantan akan disimpan didalam spermateka kepiting
betina sampai telur siap untuk dibuahi. Kepiting bakau yang siap dibuahi akan
menghasilkan telur yang kemudian berkembang ke tahap stadia zoea. Pada stadia
zoea terdiri dari 5 tahap yaitu sub stadia 1 zoea sampai sub stadia zoea 5. Tahap
ini dimana telur atau larva menetas. Kemudian tahap stadia megalopa yang dimana
tubuh kepiting bakau belum terbentuk sempurna. Pada tahap ini mulai terbentuk
mata, capit (chela), serta kaki yang lengkap namun tertutup abdomen (abdomen
flap) yang masih menyerupai ekor yang Panjang dan beruas. Setelah tahap stadia megalopa
masuk ke tahap stadia crab (kepiting muda) dimana tubuh kepiting bakau mulai
terbentuk sempurna dan memiliki organ tubuh yang lengkap seperti halnya
kepiting dewasa namun ukurannya masih kecil. Terakhir tahap stadia kepiting
dewasa yaitu tubuhh kepiting terbagi menjadi dua yaitu bagian badan dan bagian
kaki yang terdiri atas sepasang celiped, tiga pasang kaki jalan dan sepasang
kaki renang (Kumalah dan Wardiatno, 2017) .
2.4 Cara
Makan
Pada habitat alaminya kepiting bakau mengkonsumsi
berbagai jenis pakan antara lain alga, daun-daun yang telah membusuk, akar
serta jenis kacang-kacangan, jenis siput, kodok, katak, daging kerang, udang,
ikan, bangkai hewan sehingga kepiting bakau bersifat pemakan segala (Omnivorous-
scavenger) dan pemakan sesama jenis (cannibal). Waktu kepiting bakau
mencari makan yaitu malam hari sehingga tergolong hewan nokturnal. Kepiting
juga memakan partikel detritus yang ditemukan dalam lumpur. Terdapat dua pola
gerakan tingkah laku kepiting bakau dalam merespon makanan yaitu kepiting
dewasa memberikan respon langsung sedangkan kepiting muda memberikan respon
tidak langsung (Suryono dkk., 2016).
2.5 Cara
Beradaptasi
Kepiting bakau (Scylla serrata) hidup hampir di
seluruh perairan pantai terutama pada pantai yang ditumbuhi mangrove, perairan
dangkal yang dekat dengan mangrove, dan pantai berlumpur. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi pertumbuhan kepiting bakau, diantaranya adalah salinitas,
suhu, pH, pasang surut, serta substrat dasar. Kepiting bakau adalah hewan yang
beradaptasi dengan mangrove dan memiliki daerah penyebaran yang luas. Hal ini
disebabkan karena kepiting bakau memiliki toleransi yang luas terhadap faktor
abiotik terutama pada suhu dan salinitas. Kawasan mangrove menjadi habitat bagi
berbagai satwa meliputi biota yang hidup di substrat yang keras maupun lunak
(lumpur) salah satunya, yaitu kepiting bakau (Ardian dkk., 2022).
2.6 Fungsi
dan Manfaat
Daging kepiting mengandung asam amino esensial, asam
lemak tak jenuh, vitamin B12, fosfor, zat besi, dan selenium yang berperan
dalam mencegah kanker dan pengrusakan kromosom, juga meningkatkan daya tahan
terhadap infeksi virus dan bakteri (Paul dkk., 2015). Menurut Herliany
dan Zamdial , (2015) Setiap 100 gram daging kepiting bakau segar mengandung
nilai gizi tinggi yakni 18,06 g protein, 1,08 g lemak, 89 mg kalsium, dan 68,1
g air . Bukan hanya dagingnya yang mempunyai nilai komersil, kulitnyapun dapat
dijual. Kulit kepiting diekspor dalam bentuk kering sebagai sumber chitin,
chitosan dan karotenoid yang dimanfaatkan oleh berbagai industri sebagai bahan
baku obat, kosmetik, pangan, dan lain-lain.
2.7 Strategi
Pengelolaan
Menurut
Siahainenia dan Makatita, (2020) dalam penelitiannya menemukan 4 strategi pengelolaan kepiting bakau yaitu:
1. Budidaya kepiting bakau, strategi ini
dibuat untuk menjamin ketersediaan sumberdaya kepiting bakau
dialam, dan memenuhi kebutuhan
pasar.
2. Pengelolaan ekosistem mangrove , pengelolaan ekosistem
mangrove diharapkan dapat mengurangi ancaman pemanfaatan yang merusak sehingga
berdampak terhadap keberlangsungan
hidup kepiting bakau.
3. Pengaturan waktu tangkap, alat
tangkap dan lokasi tangkap, merupakan upaya untuk menjamin ketersediaan
sumberdaya kepiting bakau di
alam. Alat tangkap
yang digunakan sebaiknya
alat tangkap yang ramah lingkungan seperti bubu dan jaring dengan ukuran
mata yang besar.
4. Ukuran kepiting bakau
yang boleh ditangkap. Upaya
yang harus dilakukan yaitu penegakan
aturan tentang ukuran kepiting bakau
yang boleh ditangkap.
2.8 Pemasaran
Menurut Parapat dan Abdurrachman, (2019) Pola saluran pemasaran kepiting bakau dapat diketahui dengan cara mengikuti arus pemasaran kepiting bakau mulai dari petani sampai ke tangan konsumen. Pola saluran pemasaran kepiting bakau di Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari dua pola saluran pemasaran yaitu:
1. Saluran I Petani → Pedagang Pengumpul → Pedagang Besar → Konsumen
2. Saluran II Petani → Pedagang Besar → Konsumen
Kegiatan pemasaran kepiting bakau dikedua saluran pemasaran tentu melibatkan lembaga pemasaran. Pada saluran pemasaran I, lembaga pemasaran yang terlibat adalah pedagang pengumpul dan pedagang besar. Peranan pedagang pengumpul disini adalah yang membeli kepiting bakau dari para petani dengan jumlah hasil panen yang banyak kemudian pedagang pengumpul menjual kepiting ke pedagang-pedagang besar. Pada saluran pemasaran II, lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran kepiting bakau adalah pedagang besar. Para pedagang besar disini adalah pedagang yang menjual kepiting bakau kepada perusahaan yang ada di beberapa kota.
III.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kepiting bakau yang memiliki nama latin Scylla Serrata
ternyata memiliki banyak manfaat. Baik untuk lingkungannya ataupun untuk kita
sebagai manusia. Untuk lingkungannya yaitu dengan adanya kepiting bakau
membantu agar daun daun di hutan mangrove lebih cepat terurai. Dan kepiting
bakau mampu membantu masyarakat pesisir pantai mendapatkan mata pencarian. Karena
kepiting bakau yang hidup di pesisir pantai dapat dijual dengan harga yang relative
tinggi. Bukan hanya dapat dijual di pasar-pasar kecil kepiting bakau juga dapat
diekspor keluar negeri. Kepiting bakau memiliki manfaat bagi bidang kesehatan maupun
bidang kecantikan.
3.2 Saran
Karena banyak dari warga pesisir menangkap kepiting
bakau tanpa memperhatikan ukuranya menyebabkan banyak kepiting yang saya temui
ukurannya masih sangat kecil. Sebaiknya warga sekitar atau pedagang kecil perlu
edukasi tentang ukuran dari kepiting bakau yang diperbolehkan untuk ditangkap
agar tidak menyebabkan populasi kepiting bakau ini berkurang .
DAFTAR
PUSTAKA
Ardian Aan , Kustiati, Saputra Firman.
2022. Kualitas Habitat Kepiting Bakau ( Scylla Serrata-Forsskal) di
Perairan Pantai Desa Sengkuang Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten Mempawah.
Jurnal Protobiont. 11(2): 44-50.
Herliany, N. E., Zamdial. 2015. Hubungan
Lebar Karapas Dan Berat Kepiting Bakau (Scylla Spp.) Hasil Tangkapan Di
Desa Kahyapu Pulau Enggano Provinsi Bengkulu. Jurnal Kelautan. Volume 8 (2),
83-87.
Koniyo Yuniarti. 2020. Teknologi Budidaya
Kepiting Bakau (Scylla Serrata Forsskal) Melalui Optimalisasi Lingkungan
dan Pakan. Serang, Banten. CV. AA. Rizky.
Kumalah AA dan Wardiatno Y. 2017. Biologi populasi kepiting bakau Scylla serrata - forsskal, 1775 di ekosistem mangrove kabupaten subang, jawa barat. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 9(1):173-184.
Mbihgo Sunarti. 2019. Biodiversitas Identifikasi dan Jenis Kepiting Bakau (Scylla spp.) Pada Ekosistem Mangrove di Pulau Lombok. Skripsi. Universitas Islam Negeri Mataram.
Ohoiulun D. dan Hanoatubun M. I. H. 2020. Analisis Morfometrik Kepiting Bakau (Scylla Serrata) Hasil Tangkapan dari Perairan Desa Warmut Kabupaten Maluku Tenggara. Jambura Fish Processing Journal. 2(1): 28-35.
Parapat E.R., dan Abdurrachman. 2019. Analisis
Pendapatan dan Efisiensi Pemasaran Kepiting Bakau di Kecamatan Seruway
Kabupaten Aceh Tamiang. Jurnal Penelitian Agrisamudra. 5(1): 54-60
Paul B., Faruque, Mandal R. &Ahsan D.
2015. Nutritional susceptibility to morphological, chemical and microbial
variability: An investigation on mud crab, Scylla serrata in Bangladesh.
International Journal of Fisheries and Aquatic Studies 2015; 2(6): 313-319
Sari Indira Rosvita,Sara La, dan Tadjuddah Muslim. 2023. Kelimpahan dan Pola Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla serrata) di Hutan Mangrove Teluk Kulisusu Utara, Buton Utara. Jurnal Sains dan Inovasi Perikanan. 7(1) :1-10.
Siahainenia L. dan Makatita M. 2020. Aspek Bioekologi Sebagai Dasar Pengelolaan Sumber Daya Kepiting Bakau (Scylla spp.) Pada Ekosistem Mangrove Pasoo. Jurnal Triton. 16(1): 8-18.
Sipayung R. H. dan Poedjirahajoe E. 2021. Pengaruh Karakteristik Habitat Mangrove Terhadap Kepadatan Kepiting (Scylla Serrata) di Pantai Utara, Kabupateb Demak, Jawa Tengah. Jurnal Tambora. 5(2): 21-30.
Suryono C., Irwani, Rochaddi B., 2016.
Pertambahan Biomasa Kepiting Bakau Scylla serrata pada Daerah Mangrove
dan Tidak Bermangrove . Jurnal Kelautan Tropis .19(1):76-80
Tiurlan E., Djunaedi A. dan Supriyantini
E. 2019. Aspek Reproduksi Kepiting Bakau (Scylla sp.) di Perairan
Kendal, Jawa Tengah. Journal of Tropical Marine Science. 2(1):29-36.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar