1. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Indonesia
merupakan negara yang memiliki daerah laut yang lebih luas dibandingkan dengan
luas daratannya. Tak heran jika banyak jenis biota laut ditemukan diIndonesia.
Biota laut adalah semua makhluk hidup berupa tumbuhan dan hewan yang hidup
dilaut seperti sotong, kerrang hijau, kepiting rajungan, kerang, bintang laut,
terumbu karang dan rumput laut. Biota adalah keseluruhan flora dan fauna yang
terdapat dalam laut. Sedangkan biota laut adalah biota yang terdapat didalam
laut”. Dari beberapa pengertian tentang biota dan biota laut yang tertera pada
KBBI, dapat ditarik kesempulan tentang pengertian biota laut itu sendiri dengan
lebih jelas. Kesimpulanya adalah biota laut merupakan sekumpulan makhluk hidup
berupa flora dan fauna atau tumbuhan dan hewan yang terdapat didalam laut.
Biota laut dapat dikelompokkan berdasarkan jenis karateristik dan sifat yang
dimilikinya. Biota laut adalah berbagai macam tumbuhan dan hewan yang ada di
laut (Diyanti dan Angge, 2017).
Menurut
Harjana dan Rahmatiah (2021), wilayah Perairan laut yang dimiliki Indonesia
lebih luas daripada wilayah daratannya, sehingga wilayah laut penting menjadi
perhatian bagi kehidupan Masyarakat. Biota laut dikenal sebagai kumpulan
berbagai spesies hewan, tumbuhan, atau karang yang hidup di laut sebagai tempat
pengembangannya. Salah satu manfaat dari biota laut adalah pemanfaatan limbah
biota laut menjadi produk karya seni Indonesia dikenal dunia sebagai Negara
kepulauan terbesar dengan jumlah 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang
81.791 km menyebar dan membentang dari sabang sampai Marauke. Biota laut adalah
semua makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan atau karang. Hewan laut
merupakan biota laut yang hidup perairan asin atau laut seperti ikan, penyu,
kura-kura, kepiting dan lainnya. Sedangkan tumbuhan laut merupakan makhluk
hidup yang hidup di perairan asin atau laut seperti alga hijau, rumput laut,
padang lamun dan lainnya (Crec dan Noventius, 2018).
1.2 Tujuan
Mengetahui
jenis jenis biota laut seperti tumbuhan laut dan hewan laut mulai dari
klasifikasi, factor hidup, cara pembudidayaan, bahaya dan kerusakan serta
habitatnya.
2. ISI
2.1 Pengertian
Tumbuhan Laut
Tumbuhan
Laut Selain kelompok hewan yang hidup di lautterdapat juga kelompok tumbuhan
yang disebut tumbuhan laut yang juga banyak memiliki nilai gizi dan ekonomi.
Tumbuhan laut adalah tumbuhan yang hidup di dasar laut. Tumbuhan atau rumput
laut merupakan salah satu sumber daya hayati yang terdapat di wilayah pesisir
dan laut.
2.1.1
Rumput laut
Seaweed
atau rumput laut, secara ilmiah dikenal dengan istilah algae atau ganggang.
Rumput laut merupakan tumbuhan berklorofil dan digolongkan sebagai tanaman
tingkat rendah yang tidak memiliki akar, batang maupun daun sejati, melainkan
hanya menyerupai batang, yang disebut thallus. Rumput laut merupakan tanaman
berderajat rendah, biasanya tumbuh melekat padasubstrat tertentu, tidak
mempunyai akar dan batang serta daun sejati, tetapi hanyamenyerupai batang yang
disebut thallus. Bentuk thallus ini beragam, ada yang bulat sepertitabung,
pipih, gepeng, bulat seperti kantong, atau ada juga yang seperti rambut. Rumput
lauttumbuh di alam dengan melekatkan diri pada karang, lumpur, pasir, batu dan
benda keraslainnya. Selain benda mati, rumput laut pun dapat melekat pada
tumbuhan lain secara epifitik (Firman, 2019).
2.1.2
Padang lamun
Kawasan
pesisir pantai beserta keragaman vegetasinya terutama ekosistem lamun (seagrass)
memiliki beberapa fungsi ekologis sebagai daerah pemijahan(spawning ground),
daerah asuhan (nursery ground) dan daerah perlindungan(sanctuary
ground) bagi berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya yang memiliki nilai
ekonomis tinggi. Ekosistem lamun adalah ekosistem pesisir yang ditumbuhi oleh
lamun sebagai vegetasi yang dominan. Lamun (seagrass) adalah kelompok tumbuhan
berbiji tertutup (angiospermae) dan berkeping tunggal (monokotil)yang mampu
hidup secara permanen di bawah permukaan air laut. Peranan ekosistem lamun
secara fisik di perairan laut dangkal adalah membantu mengurangi tenaga
gelombang dan arus, menyaring sedimen yang terlarut dalam air dan menstabilkan
dasar sedimen. Komunitas lamun berada di antara batas terendah daerah pasang
surut sampai kedalaman tertentu di mana cahaya matahari masih dapat mencapai
dasar laut. Padang lamun merupakan suatu komunitas dengan produktivitas primer
dan sekunder yang sangat tinggi, detritus yang dihasilkan sangat banyak, dan
mampu mendukung berbagai macam komunitas hewan. Salah satu penyebabnya adalah pemanfaatan
daerah pantai yang dapat memberikan pengaruh terhadap keberadaan padang lamun
(Ismail dkk., 2019).
2.1.3
Mangrove
Mangrove
adalah jenis tanaman dikotil yang hidup di habitat air payau dan air laut.
Mangrove menjadi salah satu solusi yang sangat penting untuk mengatasi berbagai
jenis masalah lingkungan terutama untuk mengatasi kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh rusaknya habitat untuk hewan. Kerusakan ini tidak hanya
berdampak untuk hewan tapi juga untuk manusia. Mangrove telah menjadi pelindung
lingkungan yang sangat besar. Mangrove disebut juga sebagai hutan pantai, hutan
payau atau hutan bakau. Pengertian mangrove sebagai hutan pantai adalah
pohon-pobon yang tumbuh di daerah pantai (pesisir), baik daerah yang pasang
surut air laut maupun wilayah daratan pantai yang dipengaruhi oleh ekosistem
pesisir, sedangkan pengertian mangrove sebagai hutan payau atau hutan bakau
adalah pohon-pohon yang tumbuh di daerah payau pada tanah (alluvial) atau
pertemuan air laut dan air tawar di sekitar muara sungai. Mangrove adalah
vegetasi hutan yang tumbuh pada tanah di daerah pantai dan sekitar muara sungai
yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove juga tumbuh pada pantai
karang atau daratan terumbu karang yang berpasir tipis atau pada pantai
berlumpur (Sumar, 2021).
2.2 Pengertian
Hewan Laut
Hewan laut
adalah hewan yang habitatnya ada di perairan asin atau lautan.
Hewan laut juga hidup di air payau seperti kepiting bakau. Hewan-hewan yang
hidup di laut seperti kepiting rajungan, kerang hijau, sotong maupun cumi.
2.2.1
Kepiting Rajungan
Kepiting
Rajungan memiliki nama latin Portunus pelagicus . Kepiting rajungan
tergolong ke dalam Kelas Crustacea dan termasuk hewan penghuni dasar air laut
dan sesekali berenang mendekati permukaan air laut untuk mencari makanan. Sehingga kepiting rajungan disebut sebagai
Blue Swimming Crab.Kepiting merupakan hewan dari anggota Artropoda. Kepiting
memiliki eksoskeleton yang terbuat dari lapisan kutikula yang merupakan
polisakarida dari kitin, protein, lemak dan mineral seperti kalsium karbonat.
Sebagian besar tubuh kepiting dilindungi oleh karapas(Amelia dkk.,
2020). Rajungan Portunus pelagicus mempunyai bentuk tubuh yang ramping dengan
capit yang panjang dan warna karapasnya sangat unik, hidup di lingkungan air
laut. Duri akhir pada karapas Rajungan cenderung runcing dan tajam serta
panjang. Rajungan memiliki karapas dengan bentuk bulat pipih, di bagian kiri
dan kanan mata ada duri 9 buah dan duri terakhir ukurannya lebih panjang.
Rajungan memiliki 5 pasang kaki yang terdiri atas 1 pasang kaki capit, 3 pasang
kaki sebagai kaki jalan, dan sepasang kaki terakhir menjadi sepasang kaki yang
dimodifikasi untuk berenang yang ujungnya pipih dan membundar (Munthe dan
Dimenta, 2022).
2.2.2
Cumi-Cumi
Cumi-cumi memiliki nama latin yaitu Loligo
vulgaris. Cumi cumi termasuk
kelompok filum Mollusca yang memiliki tubuh lunak dan berdarah
dingin. Cumi cumi merupakan hewan yang termasuk dalam kelas cephalepoda. Cumi
cumi memiliki tubuh yang terdiri atas
kepala, mantel, dan kaki
otot. Mereka hidup
secara heterotrof, sehingga membutuhkan
organisme lain sebagai nutrisinya,
seperti ganggang, ikan, udang,
maupun sisa organisme. Heterotrof merupakan organisme
yang tidak dapat membuat makanannya sendiri (Ariani dkk., 2019).
2.2.3
Sotong
Sotong (Sephia Sp.) merupakan golongan
celopoda perairan dangkal. Ukuran sotong dapat mencapai
60 cm, memiliki cangkang internal yang biasa disebut tulang sotong
atau Cuttelbone. Bentuk tulang sotong lonjong dengan ujung posterior
bulat dan ujung anterior yang
meruncing ke suatu titik. Tulang sotong
menghasilkan kitin yang
lebih banyak dari
kulit udang, kulit kepiting
dan kulit belangkas. Kitin
merupakan bahan dasar pembentuk
kitosan. Kitosan merupakan
hasil diasetilisasi dari kitin.
Tahapan proses pembuatan kitosan dari kitin ada 4 tahapan
umum yaitu,
deptoteinisasi,demineralisasi, depigmentasi dan deasetilisasi.
Kitosan memiliki sifat
tidak larut dalam air
tetapi larut dalam
asam, memiliki viskositas yang tinggi ketika dilarutkan(Rahman dkk.,
2020).
2.3 Klasifikasi
2.3.1
Klasifikasi Rumput Laut
Menurut
Maysri (2021), klasifikasi rumput laut (Gracilaria verrucosa):
Kingdom : Protista
Filum : Thallophyta
Divisi : Rhodophyta
Class : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Gracilariaceae
Genus : Gracilaria
Species : Gracilaria verrucosa
2.3.2
Klasifikasi Padang Lamun
Menurut
Rawung dkk., (2018), klasifikasi Lamun Halodule uninervis sebagai
berikut:
Kingdom : Plantae
Filum : Trachophyta
Kelas : Mognoliopsida
Ordo : Alismatales
Famili : Cymodoceaceae
Genus : Halodule
Spesies : Halodule uninervis
2.3.3
Klasifikasi Mangrove
Menurut
Pernama dkk., (2021), klasifikasi mangrove Rhizophora apiculate :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Rhizophoraceae
Genus : Rhizophora
Spesies : Rhizophora apiculate
2.3.4
Klasifikasi Kepiting Rajungan
Menurut
Baswantara dkk., (2021), klasifikasi kepiting rajungan :
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Infraordo : Brachyura
Famili : Portunidae
Genus : Portunus
Spesies : Portunus
pelagicus
2.3.5
Klasifikasi Cumi-Cumi
Menurut
Liswahyuni (2023), klasifikasi cumi-cumi :
Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Cephalopoda
Famili : Loligodae
Genus : Loligo
Spesies : Loligo sp.
Menurut Ritonga dkk., (2021)
klasifikasi sotong :
Kingdom
: Animalia
Filum
: Mollusca
Kelas
: Cephalopoda
Ordo
: Sepioidea
Famili
: Sepinidae
Genus
: Sepia
Spesies
: Sepia sp.
2.4 Faktor
Hidup
2.4.1
Faktor Hidup Rumput Laut
Faktor-faktor
yang mempengaruhi komunitas rumput laut dibedakan menjadi tiga, yaitu faktor
oseanografi, topografis dan hayati. Kondisi oseanografis di suatu perairan (temperatur,
intensitas cahaya, kedalaman, salinitas, pH, arus dan gelombang), faktor
topografis (Kondisi substrat dasar perairan), dan faktor hayati seperti hewan
herbivor, serta kompetisi antara jenis rumput laut itu sendiri mempengaruhi
struktur komunitas rumput laut (Ferawati dkk., 2014).
2.4.2
Faktor Hidup Padang Lamun
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan atau kehidupan padang lamun yaitu terdiri dari
suhu, kerapatan lamun, laju sedimen, kecepatan arus, kualitas air, pH,
kedalaman, dan salinitas di suatu perairan (Hidayat dan Widyorini, 2014).
2.4.3
Faktor Hidup Mangrove
Faktor-faktor
Pengaruh Pertum-buhan Mangrove Beberapa
faktorlingkunganyangmempengaruhipertumbuhan mangrove di suatu lokasiadalah:
fisiografi pantai (topografi),pasang (lama, durasi, rentang),gelombang dan
arus, iklim (cahaya,curahhujan, suhu, angin), salinitas, oksigenterlarut,
tanah, dan hara (Alwidakdo dkk., 2014).
2.4.4
Faktor Hidup Kepiting Rajungan
Pola
pertumbuhan pada Portunidae tidak bersifat tetap dan dapat berubah ketika
terjadi perubahan terhadap lingkungan dan ketersediaan makanan. Faktor internal
meliputi spesies, bentuk, dan kegemukan, sedangkan faktor eksternal meliputi
musim, kondisi habitat, dan ketersediaan makanan. Rajungan dengan lingkungan
yang optimal akan tumbuh dengan optimal. Rajungan yang tumbuh di lokasi yang
berbeda akan memiliki pola pertumbuhan yang cenderung berbeda. Hal ini
dipengaruhi oleh faktor eksternal. Faktor eskternal yang mendukung pertumbuhan
rajungan yaitu jumlah dan ukuran makanan yang tersedia, oksigen terlarut, suhu,
kualitas air, umur, dan ukuran organisme. Suhu dan salinitas memegang peran
penting dalam pertumbuhan rajungan (Mustofa dkk., 2021).
2.4.5
Faktor Hidup Cumi-Cumi
Muhsoni
(2019), mengatakan bahŌa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi laju
pertumbuhan ikan maupun cumi-cumi, di antaranya yaitu ketersediaan makanan yang
sesuai dalam jumlah yang cukup, stres yang disebabkan oleh kepadatan, penyakit
dan parasit, faktor genetik, dan lingkungan seperti kondisi perairan.
2.4.6
Faktor Hidup Sotong
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pola pertumbuhan atau pola kehidupan sotong yaitu kualitas
air, suhu, pH dan salinitas air. Apabila factor-faktor tersebut dalam kondisi
optimum maka pola pertumbuhan dan kehidupan sotong akan baik (Pongsapan dkk.,
2017).
2.5 Budidaya
2.5.1
Budidaya Rumput Laut
Secara
umum, budidaya rumput laut Indonesia masih dilakukan dengan cara tradisional,
bersifat sederhana,dan belum banyak mendapat input teknologi dari luar. Faktor-faktor
yang perlu diperhatikan dalam budidaya rumput laut, adalah:(1) pemilihan lokasi
yang memenuhi persyaratan bagi jenisrumput laut yang akan dibudidayakan. Hal
ini perlu karenaada perlakukan yang berbeda untuk tiap jenis rumput laut,(2)
pemilihan atau seleksi bibit, penyediaan bibit, dan cara pembibitan yang tepat,
(3) metode budidaya yang tepat, (4)pemeliharaan selama musim tanam, dan (5)
metode panendan perlakuan pascapanen yang benar. Kini, budidaya rumput laut
tidak hanya dilakukan diperairan pantai (laut) tetapi juga sudah mulai digalakkan
pengembangannya di perairan payau (tambak). Budidaya diperairan pantai sangat
cocok diterapkan pada daerah yang memiliki lahan tanah sedikit (sempit), serta
berpenduduk padat, sehingga diharapkan pembukaan lahan budidaya rumput laut di
perairan dapat menjadi salah satu alternatifuntuk membantu mengatasi lapangan
kerja yang semakin kecil (Priono, 2016).
2.5.2
Budidaya Padang Lamun
Pembudidayaan
padang lamun dapat dilakukan dengan kegiatan transplantasi lamun. Jumlah bibit
yang ditanam menggunakan metode terf sebanyak 350 bibit dengan 14 plot frame
kawat di mana masing-masing plot berisi 25 bibit lamun. Pada metode sprig
anchor, jumlah bibit yang ditanam sebanyak 475 bibit dengan 19 plot di mana
masing-masing plot berisi 25 bibit. Pemulihan kondisi ekosisitem lamun
dilakukan dengan kegiatan transplantasi lamun menggunakan dua metode yaitu terf
dan sprig anchor. Kegiatan pengabdian masyarakat pelestarian ekosistem lamun
diterima baik oleh masyarakat Desa Pahawang dan dapat dilanjutkan oleh
masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan serta keberlangsungan makhluk
hidup yang tinggal di wilayah pesisir ( Al dkk., 2023).
2.5.3
Budidaya Mangrove
Pembudidayaan
hutan mangrove dapat dilakukan dengan permudaan kawasan mangrove atau reboisasi
mangrove. Permudaan mangrove dapat dilakukan dengan cara alami maupun buatan.
Permudaan dengan cara alami terjadi jika buah jatuh dan tumbuh dengan
sendirinya pada substrat. Permudaan buatan dilakukan oleh manusia dengan cara
melakukan pembibitan dan penanaman kembali bibit-bibit yang telah tumbuh
tersebut pada habitat alaminya (Yona dkk., 2018).
2.5.4
Budidaya Kepiting Rajungan
Pembudidayaan
kepiting rajungan dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode pendampingan
dan metode demplot teknik budidaya kepiting rajungan untuk menghasilkan
kepiting rajungan besar. Tahapan-tahapan antara lain konstruksi tambak,
pengeringan tambak, pengisian air, tempat pemeliharaan, pemilihan benih,
pengangkutan benih, penebaran benih, pemeliharaan, kualitas air, pemberian
pakan (buatan dan alami), pertumbuhan, penanganan hama penyakit, dan panen
(Hakim dkk., 2018).
2.5.5
Budidaya Cumi-Cumi
Populasi
cumi-cumi perlu dipertahankan agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,
selain pertumbuhan secara alamai juga dapat dilakukan dengan teknologi
budidaya. Teknologi budidaya laut seperti pemijahan diperlukan untuk
menyeimbangkan aktivitas penangkapan dan pengkayaan stok cumi-cumi di alam.
Penyediaan telur-telur cumi-cumi secara berkesinambungan merupakan salah satu
faktor pendukung upaya pengkayaan stok cumi-cumi di alam. Ketersediaan telur
cumi-cumi merupakan salah satu kendala dalam kegiatan pembenihan cumi-cumi
skala hatchery. Untuk mengatasi hal tersebut maka salah satu upaya yang harus
dilakukan adalah dengan mengumpulkan telur cumi-cumi dari alam dengan bantuan
atraktor sebagai tempat menempel telur cumi-cumi (Hasmawati, 2015).
2.5.6
Budidaya Sotong
Sotong
adalah salah satu komuditas budidaya laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Namun demikian, keberadaannya secara alami menunjukan telah terjadi penurunan
produksi. Meskipun demikian, beberapa
indiator menunjukkan memiliki
potensi untuk diversivikasi budidaya. Indikatonya
adalah potensi bibit,
lingkungan perairan yang
mendukung untuk pengembangan
budidaya dan nilai ekonomi sotong yang cukup tinggi pada ukuran mantel yang
telah mencapi lebih besar dari 30 cm. Selain itu, budidaya sotong dapat
meningkatkan peran secra aktif, khususnya nelayan pembudidaya dalam mencegah
keberlanjutan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan (Syukur dkk.,
2019).
2.6 Bahaya
dan Kerusakan
2.6.1
Bahaya dan Kerusakan Rumput Laut
Mengingat
tingginya minat masyarakat sekitar untuk mengkonsumsi dan mengolah rumput laut
Gracilaria sp. Rumput laut tersebut dapat dapat dikonsumsi secara langsung
sebagai sayuran bahkan dijadikan bahan campuran roti, sup, es krim, serbat,
keju, puding, selai dan lain-lain. Maka pada penelitian yang dilakukan Rahayu dan
Purnomo (2022), ini perlu dilakukan untuk mengetahui kandungan logam berat yang
ada di tanaman tersebut. Dengan demikian hasilnya dapat dijadikan sumber
informasi terkait pengolahan lebih lanjut atas besarnya konsentrasi logam berat
tersebut, sehingga bisa aman dikonsumsi oleh masyarakat sekitar.
2.6.2
Bahaya dan Kerusakan Padang Lamun
Penyebab
kerusakan dan hilangnya padang lamun hampir di seluruh dunia terutama
disebabkan oleh dampak aktifitas manusia (Anthropogenic impact) yaitu
meningkatnya jumlah penduduk di pesisir pantai (Patty, 2016).
2.6.3
Bahaya dan Kerusakan Mangrove
Kerusakan
mangrove mungkin terjadi akibat faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas
masyarakat yang merusak langsung tumbuhan mangrove itu sendiri. Kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang tumbuhan mangrove, mengakibatkan mangrove
diwilayah ini berkurang, Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu
dilakukan penelitian mengenai dampak kegiatan masyarakat pesisir terhadap
kondisi ekosistem mangrove guna mengetahui seberapa besar dampak dari aktivitas
tersebut (Rawena dkk., 2020).
2.6.4
Bahaya dan Kerusakan Kepiting
Rajungan
Rajungan
termasuk salah satu hasil perikanan yang umumnya bersifat perishable food
(mudah rusak/busuk).Penurunan mutu pada daging rajungan disebabkan oleh
aktivitas enzim dan bakteri, karena itu penanganan rajungan harus terjamin
perlakuan dan sanitasi pada proses pengolahannya. Sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia (SNI) 6929.2 : 2010, standar daging rajungan yang dijadikan
bahan baku untuk produk pasteurisasi (pasteurized crab meat) adalah daging
rajungan dengan mutu baik dengan kriteria: (1) bentuk : rajungan hidup, utuh
segar, utuh rebus atau berupa daging dalam kondisi dingin atau beku (2) asal :
bahan baku dari perairan yang tidak tercemar (3) mutu : bahan baku bersih,
bebas dari setiap bau yang menandakan pembusukan, bebas dari tanda dekomposisi
dan pemalsuan, bebas dari sifata-sifat alamiah lain yang dapat menurunkan mutu
serta tidak membahayakan kesehatan (4) bentuk daging kenampakan : bersih dan
cemerlang (5) bau : segar spesifik jenis (6) tekstur: padat kompak (7) bentuk
utuh kenampakan : utuh, bersih, cemerlang, antar ruas kokoh dan kuat (7) bau :
segar spesifik jenis (Supriyadi dkk., 2019).
2.6.5
Bahaya dan Kerusakan Cumi-Cumi
Cumi-
cumi banyak diminati masyarakat karena rasanya yang enak serta kandungan gizi
cumi-cumi tinggi dan bagus untuk kesehatan. Banyak Masyarakat menangkap
cumi-cumi tanpa memperhatikan ukurannya lagi sehingga terjadinya overfhising. Banyak
dari cumi-cumi yang tertangkap masih dalam ukuran kecil yang belum layak untuk
ditangkap. Pemanfaatan sumberdaya cumi-cumi melalui kegiatan penangkapan sudah
saatnya disertai dengan upaya pengaturan penangkapan. Upaya ini dapat
memperbaiki kerusakan sumberdaya cumi-cumi karena stok dapat diperkaya untuk
memperbaiki dan mempertahankan kelestarian sumberdaya cumi-cumi. Salah satu
faktor yang sangat penting untuk mendukung upaya budidaya cumi-cumi adalah
adanya ketersediaan (supply) telur dan keberhasilan pemijahan (Tirtana dkk.,
2019).
2.6.6
Bahaya dan Kerusakan Sotong
Pelepasan
tinta adalah bagian dari respons defensif, namun ambang batas respons biokimia
yang disebabkan oleh rangsangan tidak diketahui. otong lolos dari predator yang
ditutupi jetting/tinta dan memperingatkan potensi ancaman dengan menampilkan
pola tubuh yang unik. Selain itu, tinta yang terus-menerus dengan adanya
stimulus yang jelas menyebabkan pelepasan tinta yang tidak terkendali dari
saluran tinta/saluran anus (kehilangan kendali). Namun, pelepasan kembali tinta
akan mengakibatkan “eksploitasi berlebihan” dan angka kematian yang tinggi (Jaluri,
2019).
2.7 Habitat
2.7.1
Habitat Rumput Laut
Habitat
rumput lautyang merupakantumbuhan laut dasar perairan (fitobentos), makroalga,
dan termasuk Thallophyta. Rumput laut tergolongtanaman yang hidupnya melekat
pada substrat, seperti karang, lumpur, pasir, batu, dan benda keras lainnyaatau
bahkan melekat pada tumbuhan lain secara epifitik (Ain dan Widyorini, 2014).
2.7.2
Habitat Padang Lamun
Kondisi
habitat padang lamun sangat dipengaruhi oleh beberapaparameter hidro-
oseanografi perairan disekitar habitat hidup lamun habitat dengan substrat
pasir berlumpur dengan kandungan bahan organik yang relative tinggi dan banyak
ditemukan di habitat dengan substrat pasir halus (Riniatsih, 2016).
2.7.3
Habitat Mangrove
Hutan
mangrove habitatnya di Wilayah Pesisir Pantai pasang surut mangrove adalah
jenis tanaman dikotil yang hidup dihabitat payau. Tanaman dikotil adalah tumbuhan yang buahnya berbiji
berbelahdua.Pohon mangga adalah contoh pohon
dikotil dan contoh tanaman monokotil adalahpohon kelapa. Kelompok pohon
di daerah mangrove bisa terdiri atas
suatu jenis pohon tertentu saja atau sekumpulan komunitas pepohonan yang dapat
hidup di air asin. Hutan mangrove biasa ditemukan disepanjang pantai daerah
tropis dan subtropis,antara 32° Lintang Utara dan 38° Lintang Selatan (Imran
dan Efendi, 2016).
2.7.4
Habitat Kepiting Rajungan
Rajungan
(Portunus pelagicus) atau yang dikenal dengan nama umum sebagai blue swimming
crab(BSC), termasuk ke dalam filum Crustacea dari famili Portunidae. Biota ini
umumnya menghuni dasar perairan dan secara umum ditemukan di daerah tropis,
khususnya di wilayah Asia Tenggara dan Timur atau Samudera Hindia bagian timur
dan Samudera Pasifik bagian barat . Rajungan merupakan biota yang termasuk
spesies ekonomis penting di Asia Tenggara . Persebaran rajungan di wilayah
Indonesia antara lain terdapat di perairan pesisir wilayah Jawa,Sumatera
Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua. Keberadaan rajungan di pulau
Sumatera sebagian besar adalah terdapat di Provinsi Lampung, yaitu di perairan
pesisir bagian timur Lampung. Rajungan dapat ditemukan pada berbagai habitat
yang sangat beragam, yakni ditemukan mulai dari zona intertidal hingga perairan
lepas pantai dengan kedalaman 50 m. Hal tersebut berkaitan dengan preferensi
habitat setiap siklus hidup rajungan, mulai dari habitat larva, yuwana, dan
rajungan dewasa. Rajungan umumnya ditemukan dalam jumlah besar di perairan
dangkal dengan substrat berpasir . rajungan menyukai substrat dasar berpasir,
hamparan pasir, dan pasir berlumpur. Perairan yang cenderung hangat merupakan
kondisi yang disukai dikarenakan rajungan bergerak sangat aktif dibandingkan
pada kondisi dingin. Rajungan juga diketahui memiliki preferensi salinitas pada
kisaran 30-40 ppt (Radifa dkk.,2020).
2.7.5
Habitat Cumi-Cumi
Cumi cumi banyak ditemukan baik dipantai
maupun dilaut lepas. Cumi cumi dapat beradaptasi dengan cepat sehingga mampu
bertahan hidup di zona intertidal. Zona intertidal atau
litoral merupakan letak ekosistem-ekosistem yang dibatasi oleh zona-zona laut,
darat dan peralihan( ekoton) seperti pantai berpasir atau pantai karang.
Penyebaran cumi cumi tersebar hampir diseluruh permukaan laut didunia ini.
Penyebaran cumi cumi mulai dari Pantai sampai laut lepas dan mulai berupa laut
terbuka atau teluk (Ritonga dkk., 2021)
2.7.6
Habitat Sotong
Sotong
adalah hewan dari kelas cephalopoda dan merupakan filum moluska. Hewan ini, yang
dikenal sebagai sotong, secara alami mendiami perairan laut, dengan sebagian
besar individunya ditemukan di dasar laut. Sotong merupakan hewan yang
tidak bertulang belakang yang hidup
dilaut. Sotong memiliki habitat didasar laut. Dalam lingkungan laut yang menjadi
rumahnya, sotong memiliki peran penting dalam rantai makanan dan ekosistem laut
secara keseluruhan(Rini dkk., 2022).
3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tumbuhan laut
adalah organisme yang hidup di dasar laut, termasuk rumput laut, padang lamun,
dan mangrove. Hewan laut adalah hewan yang habitatnya ada di perairan asin atau
lautan, seperti kepiting rajungan, cumi-cumi, dan sotong. Faktor-faktor seperti
suhu, kerapatan lamun, kualitas air, dan salinitas memengaruhi pertumbuhan dan
kehidupan organisme laut. Budidaya dilakukan untuk menghasilkan hasil laut
secara berkelanjutan, melibatkan metode seperti transplantasi, pemijahan. Aktivitas manusia, seperti penangkapan
berlebihan, dapat mengakibatkan kerusakan pada lingkungan laut dan spesies yang
hidup di dalamnya. Berbagai spesies laut memiliki habitat yang berbeda-beda,
termasuk rumput laut, padang lamun, mangrove, kepiting rajungan, cumi-cumi, dan
sotong. Ini adalah rangkuman singkat dari materi yang telah dibahas, yang
mencakup pengenalan, klasifikasi, faktor-faktor yang memengaruhi, budidaya,
bahaya dan kerusakan, serta habitat dari organisme laut.
DAFTAR PUSTAKA
Ain, N., & Widyorini, N. (2014). Hubungan kerapatan
rumput laut dengan substrat dasar berbeda di Perairan Pantai Bandengan, Jepara. Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES), 3(1), 99-107.
Al Supandi, N. M. T. W., Firdausi, H. N., Samosir, M. F.,
Tefsele, K. T., Viani, D. O., Oktari, S. C., ... & Yusup, M. W. (2023).
Pengelolaan Ekosistem Lamun dengan Metode Teknologi Terf dan Sprig Anchor Untuk
Keberlanjutan Desa Wisata Pahawang, Kabupaten Pesawaran. Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung, 2(2), 267-277.
Alwidakdo, A., Azham, Z., dan Kamarubayana, L. (2014). Studi pertumbuhan
mangrove pada kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di desa Tanjung Limau
kecamatan Muara Badak kabupaten Kutai Kartanegara. Agrifor: Jurnal Ilmu
Pertanian dan Kehutanan, 13(1), 11-18.
Ariani, D.
NM, Jelantik Swasta
IB., Budi Adnyana P.
(2019). Studi tentang Keanekaragaman dan 14 Kemelimpahan Mollusca
Bentik serta Faktor-Faktor Ekologis yang Mempengaruhinya di Pantai
Mengening, Kabupaten Badung, Bali. Jurnal Pendidikan
Biologi Undiksha.9(3) :9-16
Baswantara A.,Firdaus A.N.,
Astiyani W.P. 2021. Karakteristik Hambur Balik Akustik Rajungan (Portunus
pelagicus) pada Kondisi Terkontrol. Journal of
Science and Applicative Technology.5(1)
:194-197.
CREC, A. S., dan
Noventius, C. (2018). Media Interaktif Virtual Reality Biota Laut
Indonesia Sebagai Media Pembelajaran Untuk Usia 11-13 Tahun. In Seminar
Nasional Seni dan Desain 2018 (pp. 251-258). State University of
Surabaya.
Diyanti, K., dan Angge, I. C. (2017). Biota Laut Sebagai
Sumber Ide Pembuatan Cenderamata Logam Wisata Pantai Pasir Putih Kabupaten
Situbondo. Jurnal Seni Rupa, 5(3), 526-536.
Ferawati,
E., Widyartini, D. S., dan Insan, I. (2014). Studi komunitas rumput laut pada
berbagai substrat di perairan Pantai Permisan Kabupaten Cilacap. Scripta
Biologica, 1(1), 57-62.
Firman, H. (2019). Faktor–Faktor Yang Berpengaruh Terhadap
Pendapatan Petani Rumput Laut Di Desa Tirowali Kecamatan Ponrang. Jurnal
Ekonomi Pembangunan STIE Muhammadiyah Palopo, 5(1), 14-22.
Hakim, I., Syafiuddin, S., & Salam, N. I. (2018).
DEMONSTRASI PLOT PEMBESARAN KEPITING RAJUNGAN DENGAN TEKNIK BUDIDAYA TAMBAK DI
DESA MATTIRO BOMBANG KABUPATEN PANGKEP. Ngayah: Majalah Aplikasi IPTEKS, 9(2).
Hariana, H., dan Rahmatiah, R. (2021). Pembuatan Handycraft
Dari Limbah Biota Laut. Jurnal Abdimas Gorontalo (JAG), 4(1),
18-23.
Hidayat, M., dan
Widyorini, N. (2014). Analisis laju sedimentasi di daerah padang lamun dengan
tingkat kerapatan berbeda di Pulau Panjang, Jepara. Management of
Aquatic Resources Journal (MAQUARES), 3(3), 73-79.
Imran, A., & Efendi,
I. (2016). Inventarisasi mangrove di pesisir pantai cemara Lombok Barat. JUPE: Jurnal Pendidikan Mandala, 1(1), 105-112.
Ismail, F., Akbar, N.,
Paembonan, R. E., dan Tahir, I. (2019). Kajian Pemanfataan Padang Lamun Sebagai
Lahan Budidaya Ikan Baronang di Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai. Jurnal
Ilmu Kelautan Kepulauan, 2(1):46-62.
Jaluri, P. D. C. (2019). Pembuatan Lotion Tabir Surya Tepung
Tulang Sotong (Sepia officinalis) dengan Perbandiangan Emulgator. Jurnal Kebidanan, 9(1).
Liswahyuni Andi.2023. Klasifikasi Hasil
Tangkapan Bagan Perahu yang Didaratkan di PPI Lappa Kecamatan Sinjai Utara
Kabupaten Sinjai. Journal Tarjih : Fisheries and Aquatic Studies .3(1) : 34-41.
Mayasri, A. (2021). Potensi Beberapa Jenis Rumput Laut di
Aceh (Studi Kasus: Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan). Lantanida
Journal, 9(1), 82-92.
Muhsoni, F. F. 2019. Dinamika Populasi
Ikan (Pеdoman Praktikum dan Aplikasinya). UTMPRESS. Madura. 87
Munthe T. dan Dimenta R.H. 2022.BIOLOGI
REPRODUKSI RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI EKOSISTEM MANGROVE KABUPATEN
LABUHANBATU. Jurnal Ilmiah Biologi. 10(1) : 182-192
Mustofa, D. A., Redjeki, S., dan Pringgenies, D. (2021).
Studi Pertumbuhan Portunus pelagicus Linnaeus, 1758 (Portunidae: Malacostrata)
di Perairan Tunggulsari, Rembang. Journal of Marine Research, 10(3),
333-339.
Patty Simon I. (2016) PEMETAAN KONDISI PADANG LAMUN DI
PERAIRAN TERNATE, TIDORE DAN SEKITARNYA.JurnalIlmiahPlatax. 4(1):9-18
Permana, W. M., Kasrina, K., dan Ansori, I. (2021).
PENGEMBANGAN SUPLEMEN PENUNTUN PRAKTIKUM TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI BERDASARKAN
STUDI ETNOBOTANI TUMBUHAN MANGROVE DI KOTA BENGKULU. Diklabio: Jurnal
Pendidikan dan Pembelajaran Biologi, 5(1), 65-73.
Pongsapan, D. S., Usman, U., dan Ahmad, T. (2017). STUDI PENDAHULUAN PENGARUH
PADAT TEBAR INDUK SOTONG BULUH, Sepioteuthis leeeoniana TERHADAP PERTUMBUHAN
DAN SINTASAN DALAM KERAMBA JARING APUNG. Jurnal Penelitian Perikanan
Indonesia, 4(3), 78-83.
Priono, B. (2016). Budidaya rumput laut dalam upaya
peningkatan Industrialisasi perikanan. Media Akuakultur, 8(1),
1-8.
Radifa M., Wardiatno Y., Simanjuntak C. P.
H. , Zairion Z. 2020. Preferensi habitat dan distribusi spasial yuwana rajungan
(Portunus pelagicus) di perairan pesisir Lampung Timur, Provinsi Lampung.
Journal of Natural Resources and Environmental Management. 10(2): 183-197
Rahayu, J., & Purnomo, T. (2022). Analisis Konsentrasi
Logam Berat Tembaga (Cu) pada Rumput Laut Gracilaria sp. yang Dibudidaya di
Kampung Rumput Laut Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Sains dan Matematika, 7(1), 13-19.
Rahman Ika
Ristia, Masykuroh Athiah.2020. KARAKTERISTIK DAN NILAI SUN PROTECTING
FACTOR(SPF) KITOSAN DARI TULANG SOTONG (Sephia officinalis). Jurnal Insan Farmasi Indonesia. 3(2): 298-306
Rawena, G. O., Wuisang, C. E., & Siregar, F. O. (2020).
Pengaruh Aktivitas Masyarakat terhadap Ekosistem Mangrove di Kecamatan
Mananggu. Spasial, 7(3), 343-351.
Rawung, S., Tilaar,
F. F., Rondonuwu,
A. B., Email, P., Inventarisasi,
K., & Station, M. F. (2018). Jurnal Ilmiah Platax Inventarisasi Lamun
Di Perairan Marine Field
Station Likupang Timur
Kabupaten Minahasa Utara( The
Inventory of Seagrasses in
Marine Field Station
of Faculty of Fisheries and Marine Science in Subdistrict of East
Likupang District Nor. Ilmiah Platax, 6(2), 38–45.
Riniatsih, I. (2016). Distribusi Jenis Lamun Dihubungkan
dengan Sebaran Nutrien Perairan di Padang Lamun Teluk Awur Jepara. Jurnal Kelautan Tropis, 19(2), 101-107.
Ritonga Arifin,
Fefiani Yusri, Warsodirejo Pandu Prabowo. 2021. Inventarisasi Spesies Kelas
Cephalopoda Dalam Pembuatan Modul Bagi Mahasiswa FKIP UISU Medan. Journal of
Biology Education, Science dan Technology.
4(2) : 87-93
Sumar, S. (2021). Penanaman Mangrove Sebagai Upaya Pencegahan
Abrasi Di Pesisir Pantai Sabang Ruk Desa Pembaharuan. IKRA-ITH ABDIMAS, 4(1),
126-130.
Supriadi, D., Utami, D. R., & Sudarto, S. (2019).
Perbandingan kualitas daging rajungan hasil tangkapan kejer dan bubu lipat di
Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon. Akuatika Indonesia, 4(2), 71-76.
Syukur, A., Al-Idrus, A., Nasir, L. M. I. H. M., & Pahmi,
P. (2019). Potensi Bibit Sotong untuk Pengembangan Keragaman Budidaya Nelayan
Kecil sebagai Strategi Konsevasi Lamun di Perairan Pesisir Lombok Timur. Jurnal Sains Teknologi dan Lingkungan, 5(2), 94-104.
Tirtana, D., Riyanto, M., Wisudo, S. H., & Susanto, A.
(2019). Respons Tingkah Laku Cumi-Cumi (Uroteuthis Duvaucelli, Orbigny 1835)
Terhadap Warna Dan Intensitas Cahaya Yang Berbeda (Behavior Response of Squid
Uroteuthis duvaucelli, Orbigny 1835 to Different Light Color and Intensity). Saintek Perikanan: Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology, 16(2), 90-96.
Yona, D., Hidayati, N., Sari, S. H. J., Amar, I. N., &
Sesanty, K. W. (2018). Teknik Pembibitan Dan Penanaman Mangrove Di Banyuurip
Mangrove Center, Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik. J-Dinamika: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(1).